Diam, kadang lebih baik. Lebih baik dari bersuara yang 'salah'. Tapi jika kamu terus memilih diam, kapan kamu akan didengar? Jika kamu 'benar', dan kamu diam, dan yang 'salah' yang akan bersuara, yang 'salah' yang akan terdengar. Lalu jika kamu tetap memilih diam, kamu akan membiarkan orang disekitarmu hanya mendengar yang 'salah'? hanya karena yang benar tak mau bersuara?
Lalu sebenarnya apa yang kamu tunggu? memunggu orang- orang salah diberhentikan oleh orang 'benar' yang lain? jika takdir ada untuk dijalankan, mengapa kamu mengingkari takdir untuk berbicara?
Kamis, 06 Maret 2014
Rabu, 16 Oktober 2013
Tengok dunia sepak bola indonesia saat ini
To the point aja ya. Kaget banget waktu dengar berita bahwa
pssi tidak mengakui status professional evan dimas hanya gara- gara klub
asalnya (juga) tidak diakui oleh pssi. Come on, saya memang bukan penggemar
bola. Tapi seharusnya kalian semakin malu, saya yang berstatus sebagai orang
awam saja bisa berpendapat kalau ini kasus bodoh sekali.
Seharusnya lembaga resmi Negara bisa bersikap sesuai dengan
statusnya. Mereka (para pemain yang tidak diakui) sudah membuat banyak prestasi
bagi Negara ini, bahkan untuk lembaga itu sendiri. Tidak seharusnya mereka
menolak para anak bangsa yang telah membawa nama baik Indonesia ini.
Kurang berapa gebrakan lagi agar kaian membuka mata? Sebagai salah
satu contoh kasus lain, tengok nama Andik vermansyah yang melejit musim lalu
karena berbagai gebrakannya saat bermain bola, tapi siapa sangka saat ini Andik
juga terancam tidak mendapat international transfer certificate (ITC) dari
pssi, hanya karena kasus yang sama, klub asalnya tidak terakui oleh pssi. Seberapa
pentingkah hal itu? Hingga mengorbankan prestasi anak bangsa, bahkan bangsa itu
sendiri? Sesungguhnya itu hanya sebuah idealisme. Ada berbagai jalan bagi
setiap orang untuk mencapai satu tujuan yang sama, tapi ketika kenyataan bicara
hanya ada satu jalan untuk satu tujuan itu, idealisme tidak berguna, begitukah?
Entah, sampai kapan kasus seperti ini akan berhenti? Kapan lembaga-
lembaga Negara ini bisa benar- benar mendapat kepercayaan dari rakyatnya jika
mereka tidak berusaha untuk dipercaya? Kapan Negara ini bisa tidak diributkan
dengan kasus bodoh tidak penting yang akan semakin membuatnya terpuruk?
Sekali lagi saya hanya orang awam, yang hanya bisa berpendapat.
Kamis, 12 September 2013
i'm not an angel
Aku bukan
malaikat, yang tidak pernah memiliki nafsu. Aku bukan malaikat, yang mulia
dengan segala hal didalamnya. Aku bukan malaikat, yang memiliki segala kebaikan
dalam dirinya. Aku bukan malaikat, yang tidak pernah memiliki rasa benci. Aku bukan
malaikat, yang selalu setia mengabdi pada penciptaNya. Aku bukan malaikat, yang
selalu ikhlas menjalani takdirNya. Aku bukan malaikat, yang tidak memiliki
berbagai macam emosi jiwa. Aku bukan malaikat, yang tidak pernah memiliki rasa egoisme.
Aku bukan malaikat, dengan segala sifat mulianya.
Aku hanya
manusia yang diciptakan dengan kesempurnaannya, tapi juga yang tidak dapat
menjadikan kesempurnaannya menjadi sempuna.
Selasa, 10 September 2013
Keegoisan duniawi?
Tadi sore
waktu sepulang dari sekolah, saya melihat berita di salah satu stasiun TV
swasta, miris sekali ketika saya mendengar berita tentang maraknya perburuan
ikan Hiu yang sudah mulai merabah ke Indonesia. Mirisnya, kebanyakan dari sang
pelaku melakukan itu hanya untuk mengambil sirip ikan Hiu nya saja. Bahkan, ada
yang setelah mengambil atau memotong (lebih tepatnya), Hiu dikembalikan ke laut
dalam kondisi tanpa sirip tidak mampu bergerak secara efektif, dan mereka akan
tenggelam ke dasar laut dan meninggal karena sesak nafas akibat tekanan air
laut dalam yang tinggi, atau dimakan oleh predator lain.
Perburuan
sirip hiu meningkat sepanjang dekade ini karena peningkatan permintaan terhadap
sirip hiu. Bahkan diperkirakan perdagangan sirip hiu setiap tahunnya bernilai
antara US$540 juta sampai US$1.2 miliar. Sebuah studi juga menyatakan
bahwa setiap tahunnya sekitar 73 juta
ikan hiu ditangkap untuk siripnya saja.
Apa yang
sebenarnya mereka lakukan dengan sirip- sirip ikan ini? Hanya untuk dijadikan
Sup dalam estoran- restoran mewah? Sungguh ironis, hanya karena keegoisan
duniawi? Sadarkah mereka telah menutup kesempatan generasi selanjutnya untuk
melihat ikan ini? Lalu, bagaimana jika 25 atau 50 tahun kemudian anak cucu kita
hanya bisa bertanya,”seperti apa yang namanya ikan Hiu? Apakah rasa siripnya enak?”, atau ketika suatu saat ikan
Hiu hanya menjadi mitos atau legenda? Ketika anak cucu kita nantinya hanya bisa
menceritakan tentang ikan Hiu dan berkembang terus kegenerasi selanjutnya, dan
seterusnya seperti itu. Apa yang bisa kita lakukan saat itu? Tidak ada. Sekaranglah
kita bisa bertindak, tidak esok hari, bahkan suatu haru nanti. Sekaranglah kita
bisa membantu memerangi perburuan liar ini. Sekaranglah kita bisa menolong anak
cucu kita esok agar bisa melihat yang namanya ikan Hiu. Cegah anak cucu kita
merasa kecewa, cegah kita menjadikan generasi ini sebagai generasi terbodoh
karena mengakibatkan kepunahan banyak hewan pada masa periode ini, dan cegah
agar ikan Hiu tidak hanya menjadi dongeng legenda 50 tahun lagi. Bukan hanya
untuk kita, juga untuk generasi kitaselanjutnya, tapi untuk semua, masa kini,
dan masa depan.

Senin, 02 September 2013
No tittle^^
Entah sejak kapan aku mengaguminu. Entah karena apa aku
menyukaimu. Entah bagaimana aku bisa bertahan.
Aku merasa
kamu beda. Kamu misterius, jarang sekali aku melihatmu bicara atau bercanda. Sering
aku melihatmu terdiam, bahkan ketika suasana kelas sedang riuh bak pasar kaget.
Sering aku melihatmu tertidur saat guru sedang menjelaskan atau mungki
mendongeng, atau saat terjadi debat sengit dikelas, bahkan saat aku terlibat
didalamnya? Keterlaluan.
Tapi sesekali
kamu mengangkat kepalamu dan bertatapan denganku saat aku tak sengaja melihat
ke sekitarmu. Seringkali kamu mengangkat kepalamu saat suaraku mulai bergabung
dalam perdebatan pelajaran agama. Seringkali kita bertatapan, tidak jelas siapa
yang memulai. Dan seringkali kamu mengangkat kepalamu saat aku berbicara dengan
Carla, cewek yang duduk dibelakangku selama belum genap 1bulan di kelas baru
ini. Semua terasa masih asing, dan merasa masih asing.
Aku tau
kamu tidak nyaman dengan suasana kelas ini. Aku tau kamu selalu menantikan bel
istirahat berbunyi agar cepat menemuai teman- teman lamamu. Tapi ketika dalam
kebosanan seperti itu, aku rasa hanya Carla yang bisa membuat kamu bertahan,
dia yang bisa membuatmu tertawa dan menjadi dirimu sendiri. Aku tau.
Teman-
temanku bilang kalian dekat karena sudah berteman mulai SD, dan kembali
dipertemukan tahun lalu di SMA ini. Iyakah? Tapi kenapa sesakit ini yang
kurasakan? Mana yang benar? Tatapan mana yg berarti, tatapan mendalam dan entah
apa yang tersirat didalamnya, atau tatapan kebebasan murni?
Minggu, 01 September 2013
"biarkan cinta menemukanmu"
"biarkan cinta menemukanmu"
Adalah quotes dari sebuah novel
karya Oktarina Prasetyowati yang berjudul heart block. Entah kenapa, rasanya
kalimat itu sederhana, tapi menjadi sangat mengena dihati saya.
Saya sangat setuju
dengan kalimat itu. Untuk apa kita mengejar cinta, jika setiap cinta yang kita
kejar juga mengejar cintanya? Lalu apa yang bisa kita lakukan? Menunggu? Tentu tidak.
Take it slow, pada suatu saat, cinta akan menemukan kita. Bahkan ketika cinta
itu mungkin telah pergi, mari berpikir jika cinta akan selalu pulang.
Intinya, tidak perlu berlabihan, tapi kita juga tidak harus diam. Jalani hidup
kalian. Entah itu mengagumi, menyukai, nge fans, berteman, bahakan mencintai
dalam hati. Jalani saja, whats wrong? Toh kita tidak pernah tau rahasia tuhan,
siapa yang nantinya akan menemani kita. We’ll never know. So, biarkan cinta
menemukanmu.
Langganan:
Postingan (Atom)
